Langsung ke konten utama
1. Latar Belakang
Dalam ilmu sejarah, yang meneliti tentang fakta-fakta suatu peristiwa, sangatlah bermanfaat bagi kita di masa kini yang tidak pernah mengalami masa-masa lampau atau peristiwa yang terjadi di masa lalu. Demikian halnya dengan sejarah gerakan gereja Pentakosta, kita tidak akan tahu darimana asal gereja dan pergerakan pentakosta saat ini jika kita tidak mempelajari sejarahnya.
Gereja atau Gerakan pentakosta memiliki asal usul yang jelas yang dapat dibuktikan secara otentik keberadaannya di masa lalu sehingga berkembang hingga pada saat ini, gerakan Pentakosta bermula, tidak terlepas dari, mulainya Gereja berdiri secara formal pada hari Pentakosta dua ribu tahun yang lalu, pekabaran injil pada masa rasul-rasul perdana, bapak-bapak Apologet, perbedaan pemikiran dalam ajaran firman Tuhan oleh beberapa teolog, sehingga harus di selesaikan dengan beberapa Konsili (Nicea, Konstantinopel, Trente dll). Pada masa dimana Gereja yang am atau Katolik, mulai ada pergeseran dalam penempatan posisi, peran dan kedudukan gereja dalam pemerintahan, telah mengawali perpecahan dan pembaruan oleh beberapa 3. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, penulis akan membahas Sejarah Gereja Pantakosta yang ada di Indonesia agar Umat Kristen dalam mempelajari dan memahami, isu-isu yang sedang berkembang dikalangan gereja dan Agama Kristen. Untuk melatih Umat Tuhan agar lebih terampil dalam mempelajari sejarah gereja Pantakosta dan pandai., maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah:
1. Apa pengertian, dan hakekat sejarah Gereja Pantakosta Indonesia?
2. Pokok Ajaran Gereja Pantakosta Indonesia
3. Apakah kelebihan dan kelemahan dalam sejarah Gereja Pantekosta?
4. Bagaimana penerapan Sejarah Gereja Pantakosta bagi Umat Kristen di Indonesia?
4. PEMBATASAN TOPIK PENULISAN MAKALAH
Agar penulis makalah ini lebih terfokus sesuai dengan judul dan tidak meluas kedalam topik yang lain, maka penulis memberikan batasan terhadap topik penulisan yaitu “Pentingnya Mempelajari Sejarah Gereja
tokoh gereja pada masa Gereja Roma Katolik. Pantakosta Di Indonesia” berdasarkan studi pustaka.
5. TUJUAN KARYA PENULISAN MAKALAH
Adapun yang menjadi tujuan dalam penulis Makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Tujuan Teoritis : Memberikan sumbangsi pengetahuan kepada Mahasiswa dan para calon Mahasiswa untuk mempelajari pentingnya sejarah gereja Pantakosta Indonesia.
2. Tujuan Praktis : Penulis ingin menyajikan data studi pustaka yang berkaitan dengan pentingnya sejarah Gereja Pantakosta Indonesia agar menjadi masukan yang berarti bagi seluruh Mahasiswa maupun institusi (pgi,injili, ppi) dalam membangun dan mengembangkan potensi dalam Gereja-Gereja Pantakosta Indonesia dengan baik.
3. Tujuan Akademis : untuk memenuhi syarat akademis guna mencapai nilai yang baik
6. KEGUNAAN PENULISAN MAKALAH
Melalui Makalah ini penulis berharap ada beberapa manfaat yang dihasilkan baik manfaat teoritis maupun manfaat praktis, yaitu :
1. Penulis ini dapat menunjukkan sejauh mana pentingnya mempelejari sejarah gereja Pantakosta Indonesia. Hasil dari Makalah ini dapat bermanfaat bagi setiap mhasiswa dan Bagi setiap orang pecaya yang berada Bumi Indonesia,serta tanggung jawab agar menjaga nilai moral dan etika mempelejari sejarah gereja Indonesia.
2. Hasil Makalah ini juga bermanfaat menjadi bahan pustaka untuk studi pentingnya Sejarah Gereja Indonesia khususnya Umat Kristen.
BAB II
Definisi
Arti Gereja
Gereja merupakan kata pungut 1 dalam Bahasa Indonesia dari Bahasa Portugis igreja. Bahasa Portugis selanjutnya memungutnya dari Bahasa Latin Ecclesia2 yang memungutnya dari Bahasa Yunani ekklêsia yang berarti dipanggil keluar (ek=keluar; klesia dari kata kaleo=memanggil)/orang yang dipanggil keluar. Jadi, ekklesia berarti kumpulan orang yang dipanggil ke luar (dari dunia ini). Adanya ekklesia (berkumpul) karena ada yang memanggil (panggilan).
Kata ekklesia ini kemudian dipakai oleh penulis-penulis Perjanjian Baru untuk menunjuk pada persekutuan orang-orang yang dipanggil oleh Yesus (orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus). Kata ekklesia kemudian menjadi pokok penelitian para teolog dengan menghasilkan pengertian yang berkembang dari kata ekklesia tsb.
Beberapa teolog mendefinisikan arti kata Gereja sebagai berikut:
Kata Gereja berasal dari kata dalam bahasa Portugis “igreja”, yang berasal dari kata Yunani “ekklesia” yang berarti: mereka yang dipanggil.
 keluar (ek=keluar; klesia dari kata kaleo=memanggil)/orang yang dipanggil keluar. Jadi, ekklesia berarti kumpulan orang yang dipanggil ke luar (dari dunia ini). Adanya ekklesia (berkumpul) karena ada yang memanggil (panggilan).
Kata ekklesia ini kemudian dipakai oleh penulis-penulis Perjanjian Baru untuk menunjuk pada persekutuan orang-orang yang dipanggil oleh Yesus (orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus). Kata ekklesia kemudian menjadi pokok penelitian para teolog dengan menghasilkan pengertian yang berkembang dari kata ekklesia tsb.
Beberapa teolog mendefinisikan arti kata Gereja sebagai berikut:
Kata Gereja berasal dari kata dalam bahasa Portugis “igreja”, yang berasal dari kata Yunani “ekklesia” yang berarti: mereka yang dipanggil. Mereka yang pertama dipanggil oleh Yesus Kristus ialah para murid dan sesudah kenaikan Tuhan Yesus ke surga dan turunnya Roh Kudus pada hari pentakosta, para murid itu menjadi “rasul”, artinya “mereka yang diutus” untuk memberitakan Injil sehingga lahirlah Gereja (van den End, 1992:1-2).
Deitrich Kuhl. Istilah Yunani “ekklesia” dibentuk dari kata ‘ek’ (=dari) dan ‘kaleo’ (=memanggil), yaitu ‘mereka yang dipanggil keluar’. Dalam Perjanjian Baru istilah ‘ekklesia’ diapakai 115 kali, 10 kali dalam arti Gereja secara menyeluruh (misalnya Mat. 16:18) dan selebihnya dalam arti “Gereja lokal” atau “jemaat setempat” (misalnya Mat. 18:17). Jadi kata ‘ekklesia’ dalam Perjanjian Baru mempunyai arti:
(1) Ekklesia adalah kaum yang dipanggil keluar dari kehidupan yang lama dan keluar dari kuasa Iblis, dipanggil Allah sendiri, dipindahkan ke dalam kerajaan Allah-terjadi perubahan status dan pola hidup.
(2) Ekklesia adalah kaum yang dipanggil keluar dari hidup bagi diri sendiri dan dipanggil untuk hidup bagi Tuhan, beribadah kepada Tuhan dan melayani Tuhan-perubahan tujuan hidup dan pandangan dasar (Dietrich Kuhl, 1992:34).
Menurut Henry C. Thiessen, ayat-ayat dalam PB yang memakai kata ‘ekklesia’: 1 Kor. 12:13; 1 Ptr. 1:3, 22-25; Mat. 16:18; 1 Kor. 15:9; Gal. 1:13; Flp. 3:6; Ef. 5:25-27; Ef. 1:22, 5:23; Kol. 1:18; 1 Kor. 12:28; Ef. 3:10; Ibr. 12:23, yang berarti sekelompok orang yang terpanggil, sebagai suatu majelis warga negara dari suatu negara yang mandiri, namun PB memberi arti rohani dari kata ekklesia yaitu sekelompok orang yang dipanggil keluar dari dunia dan dari hal-hal yang berdosa (Thiessen, 1995:476).
Kata "gereja" atau "jemaat" dalam bahasa Yunani adalah ekklesia; dari kata kaleo, artinya "aku memanggil/memerintahkan". Secara umum ekklesia diartikan sebagai perkumpulan orang-orang. Tetapi dalam konteks Perjanjian Baru kata ini mengandung arti khusus, yaitu pertemuan orang-orang Kristen sebagai jemaat untuk menyembah kepada Kristus.
Amanat Agung yang diberikan Kristus sebelum kenaikan ke surga (Mat. 28:19-20) betul-betul dengan setia dijalankan oleh murid-murid-Nya. Sebagai hasilnya lahirlah gereja/jemaat baru baik di Yerusalem, Yudea, Samaria dan juga di perbagai tempat di dunia (ujung-ujung dunia)
Kata Gereja (Portugis: Igreja) itu berasal dari kata Yunani "Ekklesia" artinya "orang-orang yang dipanggil keluar", jadi kata itu tak menunjuk kepada bangunan yang terbuat dari batu. Gereja adalah Tubuh Mistika Kristus yang hadir di bumi dan Kristus adalah Kepala dan Batu Penjuru Gereja. Gereja terdiri dari umat beriman yang telah dipanggil keluar dari kegelapan kepada terang keselamatan Allah di dalam Kristus. Bangunan gedung adalah tempat berkumpulnya "Gereja" ini. Oleh karena itu bangunan gedung itu seharusnya disebut "gedung Gereja", bukan "Gereja" itu sendiri .
Kata gereja dalam kehidupan sehari-hari di Indonesia dipakai dalam beberapa arti:
Gereja dalam arti menunjuk pada gedung/tempat beribadah orang Kristen. Istilah ini sering kita pakai atau dipakai oleh komunitas non Kristen. Misalnya ketika hari Minggu orang yang pergi beribadah, ketika ditanya maka jawabannya: saya mau ke Gereja. Hari minggu gereja di mana? Dst. Komunitas lain, misalnya kondektur hendak memberi tahu kepada penumpang yang akan turun di tempat yang berdekatan dengan rumah gereja, selalu berkata, gereja … gereja … gereja. Jadi gereja sering dipahami sebagai tempat perhimpunan atau pertemuan ibadah umat Kristen. Tempat ibadah itu bisa bangunan yang dirancang khusus, memiliki ijin dll utk dipakai sebagai tempat beribadah. Selain itu, kondisi Indonesia, khususnya Jakarta menyebabkan orang menjadikan rumah, hotel, aula sebagai tempat beribadah.
Gereja dalam arti “umat” atau lebih tepat persekutuan orang Kristen. Arti ini diterima sebagai arti pertama bagi orang Kristen. Jadi, gereja pertama-tama bukan sebuah gedung.
Gereja juga dipahami sebagai mazhab (aliran) atau denominasi dalam agama Kristen. Misalkan Gereja Katolik, Gereja Protestan (HKBP, GPIB, GSA dll).
Arti keempat ialah lembaga (administratif) daripada sebuah mazhab Kristen. Misalkan kalimat “Gereja menentang perang Irak”.
Gereja (untuk arti pertama) terbentuk 50 hari setelah kebangkitan Yesus Kristus pada hari raya Pentakosta, yaitu ketika Roh Kudus yang dijanjikan Allah diberikan kepada semua yang percaya pada Yesus Kristus pada waktu di Yerusalem dan dalam sejarah perkembangan Gereja

1. Sejarah Gereja Pantekosta Indonesia

Gereja-gereja Pantekosta di Indonesia berasal dari gerakan Pentakosta yang timbul di Amerika Utara sekitar tahun 1906. Gerakan ini awalnya muncul dalam Gerakan Methodis yang berkeinginan untuk kembali kepada kegairahan dan kesederhanaan yang menekankan kembali kepada pertobatan secara mendadak yang menjadi cita-cita dalam kebangunan Methodis dan kesempurnaan Kristen seperti yang dianjurkan dalam Teologi Wesley. Dalam perkembangnya penganut gerakan ini keluar dari Gereja Methodis dan membentuk organisasi tersendiri. Pada tahun 1900 salah seorang tokoh gerakan tersebut, Ch. F. Parham mengembangkan 3 pokok ajaran yang kemudian hari menjadi ciri gerakan Pentakosta pada umumnya, yaitu tekanan pada eskatologi, pada baptisan dengan Roh dan pada karunia-karunia Roh, khususnya karunia lidah, sebagai tanda seseorang telah menerima baptisan Roh.
Gerakan ini dengan cepat menyebar ke seluruh wilayah Amerika Serikat dan negara-negara lain. Menurut data, pada tahun 1972 pengikut aliran Pentakosta di seluruh dunia sudah mencapai 20 juta orang. Gereja Pentakosta mempunyai ciri-ciri yang sama di seluruh dunia, antara lain : kebaktian yang serba bebas, pemakaian Alkitab secara “spontan”, tak dipertanggungjawabkan secara ilmiah, pembangunan jemaat melalui kegiatan kebangunan rohani yang meliputi dorongan untuk bertobat dan hidup suci, dan anggapan bahwa dalam lingkungan jemaat perlu ada karunia lidah dan karunia kesembuhan sebagai tanda-tanda kesucian.
Sesuai watak gerakan Pentakosta yang bersifat spontan dan tidak memiliki organisasi yang ketat, gerakan itu secara tidak terencana masuk ke Indonesia dibawa oleh pedagang asal Inggris, J. Barnhard yang kemudian menetap di Temanggung, Jawa Tengah. Dari Temanggung, gerakan ini menyebar ke beberapa kota di Jawa, seperti Cepu dan Surakarta. Mulai tahun 1922, ajaran Pentakosta dibawa ke sana oleh Cornelius E. Groesbeck dan Richard van Klaveren, yang diutus oleh Bethel Temple dari Seatle, Amerika Serikat. Pada tahun 1923, tepatnya pada tanggal 19 Maret 1923 di Cepu berdiri Vereninging De Pinkstergemeente In Nederlandsch Oost Indie (Jemaat Pentakosta di Hindia Timur Belanda). Dan pada tanggal 30 Maret 1923, badan tersebut mendapat SK Gubernur Hindia Belanda dengan Badan Hukum No. 2924, tertanggal 4 Juni 1923 di Cipanas, Jawa Barat, serta diakui sebagai Kerkgenootscap (Badan Gereja) dengan Beslit No. 33, Staatblad No. 368. Perkembangan selanjutnya, gerakan ini dengan cepat menyebar dari Surabaya ke seluruh Jawa Timur, Sumatera Utara, Minahasa, Maluku dan Irian.
Pada tahun 1937 jemaat tersebut berganti nama menjadi De Pinksterkerk in Nederlands Oost Indie (Gereja Pentakosta di HTB), dan sejak tahun 1942 mulai disebut Gereja Pentakosta di Indonesia (GPdI).
Para pemimpin kemudian membentuk Pinksterconvent (Sidang Pentakosta) semacam badan pengurus yang bersifat longgar, sesuai dengan gagasan Pentakosta mengenai organisasi gereja yang berjiwa kongregasionalistis. Seiring dengan kemajuan organisasi tersebut, ketidakcocokan di antara pengurus mulai nampak, dengan pokok persoalannya antara lain:
a. Ajaran Yesus Only yang menganggap Nama Yesus meliputi tiga pribadi Trinitas, sehingga pembaptisan cukup kalau dilakukan dalam nama Yesus saja. Ajaran ini dibawa masuk dari Amerika Serikat oleh Van Gessel.
b. Ada tidaknya hak seorang perempuan untuk memegang kedudukan kepemimpinan dalam gereja.
c. Hubungan antara jemaat setempat dengan organisasi pusat, misalnya dalam hal milik gereja.
d. Prestise suku atau individual.

Keempat faktor tersebutlah yang menyebabkan terjadinya rentetan perpecahan sehingga menyebabkan jumlah gereja Pentakosta dari 1 nama gereja menjadi 25 nama gereja. Ini dapat dilihat dari beberapa pendeta yang keluar memisahkan diri dari organisasi gereja Pentakosta dan mendirikan gereja baru, seperti:
Anda bergereja di GBI, GPPS, GIA, GPI, Gereja BETHANY, Gereja Tiberias, atau gereja beraliran Pantekosta lainnya? Tahukah kita bahwa gereja anda itu secara organisatorial dulunya berinduk di Gereja Pantekosta di Indonesia?
1919. Dua pasang suami istreri, Richard Van Klaveren dan Cornelis E. Croesbeek mendapat penglihatan dalam suatu kebaktian di Betle Temple Meeting, di tepi Green Lake, Seatle, Washington, Amerika Serikat. Penglihatan tersebut, bahwasanya mereka diperintahkan Tuhan untuk pergi ke Nedherland Oost Indie (sekarang Indonesia)
4 Januari 1921. Richard Van Klaveren dan Cornelius E.Croesbeek, berangkat dari Amerika menuju Indonesia dengan kapal laut Suamaru, jurusan Yokohama, Osaka, Hongkong, membawa keluarga mereka masing-masing.
Maret 1921. Richard dan Cornelius tiba di Batavia (Jakarta). Langsung menuju Bali melalui Mojokerto, Surabaya, Banyuwangi dengan kapal Varkenboot. Di Pulau Dewata
ini mereka kemudian memberitakan Injil selama 21 bulan, karena dilarang oleh pemerintah Belanda. Alasannya, takut merusak kebudayaan Bali.
Desember 1922. Tinggalkan Bali dan kembali ke Batavia / Jakarta. Berkenalan dengan Mrs. Wijnen, yang bercerita bahwa ia mempunyai seorang keponakan di Cepu, Jawa Timur, bernama F.G Van Gessel.
Januari 1923. Richard & Cornelius menuju Cepu. Di sinilah pertama kali kebaktian yang diberi nama Gereja Pantekosta dimulai. Tepatnya di DeterdinkBoulevard Cepu. Oleh pemberitaan Injil Pdt.Richard Van Klaveren dan Pdt. Cornelius E. Croesbeek, keluarga F.G Van Gessel menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Pada Bulan itu, kebaktian sudah dikunjungi 50 Orang.
19 Maret 1923. Berdirinya Vereninging De Pinkstergemeente In Nederlandsch Oost Indie (Gereja Pantekosta di Indonesia-GPdI)
30 Maret 1923. 13 orang dibaptis selam di PasrSore Cepu, yang merupakantonggak sejarah Gereja Pantekosta terpancang. Baptisan dilakukan oleh Pdt. Cornelius dan Pdt. J. Thiessen. F.G Van Gessel dan isteri adalah dua dari 13 orang yang dibaptis tersebut. Lainnya adalah S.I.P Lumoindong berserta isteri dan Agust Kops.
30 Juni 1923. Badan tersebut mendapat SK Gubernur Hindia Belanda dengan Badan Hukum No. 2924, 4 Juni 1924 di Cipanas, Jawa Barat.
a. J. Thiessen pada tahun 1923 keluar dan mendirikan Pinksterbeweging, kemudian dikenal dengan nama Gereja Gerakan Pentakosta (GGP).
b. M.A. van Alt pada tahun 1931 keluar dan mendirikan De Pinkerster Zending, kini dikenal dengan nama Gereja Utusan Pentakosta (GUP).
c. F. van Akoude pada tahun 1931 keluar dan mendirikan Gemeente van God, kemudian hari dikenal dengan nama Gereja Sidang Jemaat Allah.
d. Pdt. D. Sinaga pada tahun 1941 keluar dan mendirikan Gereja Pentakosta Sumatera Utara (GPSU) atau dikenal dengan nama GPdI-Sinaga.
e. Pdt. Tan Hok Tjwan pada tahun 1946 keluar dan mendirikan Sing Ling Kau Hwee yang kini dikenal dengan nama Gereja Isa Almasih (GIA).
f. Pdt. Renatua Siburian pada tahun 1948 keluar dan mendirikan Gereja Pentakosta Sumatera Utara atau dikenal GPdI Siburian.
g. Pada tahun 1951 beberapa pendeta keluar dan mendirikan Gereja Sidang Jemaat Pentakosta.
h. Pdt. T.G. Van Gessel dan H.C. Senduk pada tahun 1952 keluar dan mendirikan Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS).
i. Pada tahun 1957 GBIS pecah dan Pdt. G. Sutupo dan Ing. Yuwono mendirikan Gereja Bethel Tabernakel (GBT).
j. Pdt. Ishak Lew keluar pada tahun 1959 dan mendirikan Gereja Pentakosta Pusat Surabaya (GPPS).
k. Pada tahun 1960 GBIS pecah lagi dan Pdt. A. Parera mendirikan Gereja Nazareth Pentakosta (GNP).
l. Pdt. Karel Sianturi dan Pdt. Sianipar pada tahun 1966 keluar dan mendirikan GPSU atau dikenal dengan nama GPdI-Sianturi.
m. Pdt. Korompis keluar pada tahun 1966 dan mendirikan Gereja Pentakosta Indonesia (GPI).
n. Pada tahun 1967 para pemimpin gereja-gereja Pentakosta di Surabaya dan Timor keluar dan mendirikan Gereja Pentakosta Elim (GPE).
o. Pada tahun 1969 GBIS pecah lagi dan Pdt. H.L. Senduk mendirikan Gereja Bethel Indonesia (GBI) dan Pdt. Jacob Nahuway mendirikan GBI Mawar Saron.
p. Pada tahun 1970 Gereja Bethel Tarbernakel pecah dan Ing. Yuwono mendirikan Gereja Pentakosta Tarbernakel (GPT).
Meskipun perpecahan demi perpecahan terjadi, namun mereka tetap berafiliasi pada satu nama yaitu Pentakosta, sehingga timbul inisiatif untuk menyatukan kembali sikap dan pandangan gereja-gereja beraliran Pentakosta. Hal ini diwujudkan dengan berdirinya Dewan Kerjasama Gereja-gereja Kristen Pentakosta Seluruh Indonesia (DKGKPSI) dan Persekutuan Pentakosta Indonesia (PPI). Tetapi pada tanggal 10 September 1979, kedua organisasi tersebut membubarkan diri dan bergabung menjadi satu wadah dengan nama Dewan Pentakosta Indonesia (DPI). Pada Musyawarah Besar (Mubes) I DPI yang diadakan pada tahun 1984, terpilih sebagai Ketua Umum adalah Pdt. W.H. Bolang. Dan pada Mubes II DPI berhasil memilih Pdt. A.H. Mandey sebagai Ketua Umumnya. Dan Pada Mubes DPI III di Caringin, Bogor, terpilih sebagai Ketua Umumnya adalah Pdt. M.D. Wakkary. Hingga saat ini ada sekitar 58 Sinode/organisasi Gereja beraliran Pentakosta yang bergabung dalam DPI.
Meskipun sudah mengalami perpecahan beberapa kali, namun GPdI tetap merupakan gereja Pentakosta yang terbesar di Indonesia. Di antara Gereja-gereja Pentakosta yang terbesar lainnya terdapat Gereja Bethel Indonesia dan Gereja Sidang Jemaat Allah. Ada beberapa gereja Pentakosta yang sudah masuk menjadi anggota Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), seperti Gereja Isa Almasih, Gereja Bethel Injil Sepenuh, Gereja Pentakosta Pusat Surabaya, dan Gereja Gerakan Pentakosta. Jumlah anggota seluruh gereja Pentakosta di Indonesia lebih kurang dua juta. Hal ini berarti, bahwa Gerakan Pentakosta meliputu 10% seluruh umat Kristen di Indonesia.
2. Pengajaran Pokok Pantekosta
• Sangat menekankan keyakinan akan peranan Roh Kudus dan karunia-karunia Roh Kudus di dalam kehidupan sehari-hari para pengikutnya.
• Pembaharuan infrastruktur ibadah, antara lain lagu-lagu rohani yang digunakan lebih modern dibandingkan dengan lagu-lagu lama yang bernuansa Gregorian.
• Gereja mengizinkan peran kaum perempuan dalam pelayanan.
• Desakralisasi hubungan antara imam dan jemaat yang lebih ditekankan pada nilai kekeluargaan, sehingga jauh dari kesan kesenjangan tingkat kerohanian.
Teologi
Secara teologis, kebanyakan denominasi Pentakosta tergabung dalam evangelikalisme, artinya mereka menekankan bahwa Alkitab itu sepenuhnya dapat dipercaya, hingga pada tingkat ineransi (tidak mengandung kesalahan) dan orang harus bertobat dan percaya kepada Yesus. Orang Pentakosta berbeda dengan orang Fundamentalis karena mereka lebih menekankan pengalaman rohani pribadi.
Orang Pentakosta memiliki pandangan dunia yang trans-rasional. Meskipun mereka sangat memperhatikan ortodoksi (keyakinan yang benar), mereka juga menekankan ortopati (perasaan yang benar) dan ortopraksis (refleksi atau tindakan yang benar). Penalaran dihargai sebagai bukti kebenaran yang sahih, tetapi orang-orang Pentakosta tidak membatasi kebenaran hanya pada ranah nalar.
Dr. Jackie David Johns dalam bukunya tentang kepemimpinan formatif Pentakosta, menyatakan bahwa Alkitab mempunyai tempat yang khusus dalam pandangan dunia pentakostal karena Roh Kudus selalu aktif di dalam Alkitab. Bagi Dr. Johns, pertemuan dengan Alkitab adalah pertemuan dengan Allah. Bagi orang Pentakosta, Alkitab adalah referensi utama bagi persekutuan dengan Allah dan pedoman untuk memahami dunia.
Salah satu ciri paling utama yang membedakan Pentakostalisme dengan Evangelikalisme adalah penekanannya pada karya Roh Kudus. Bahasa Roh yang juga dikenal dengan glossolalia, adalah bukti normatif dari baptisan Roh Kudus. Beberapa gereja Pentakosta utama juga meyakini bahwa mereka yang tidak berbahasa Roh belum menerima berkat yang mereka namakan baptisan Roh Kudus. Klaim ini unik bagi kaum Pentakosta dan merupakan salah satu dari sedikit perbedaannya dengan teologi Karismatik.
Beberapa pendeta dan anggota gereja mengakui bahwa seorang percaya mungkin mampu berbahasa Roh, tetapi karena berbagai alasan pribadi (misalnya, karena kurangnya pengertian), mereka tidak melakukannya. Hal ini terjadi apabila seorang percaya dipenuhi oleh Roh Kudus, tetapi tidak memperlihatkan apa yang disebut "bukti fisik awal" dalam bentuk berbahasa Roh. Namun hanya sedikit orang yang berpandangan seperti ini.
Para kritikus gerakan ini menyatakan bahwa doktrin ini tidak cocok dengan kritik Paulus terhadap gereja perdana di Korintus yang sangat menekankan bahasa Roh (lih. 1 Korintus, ps. 12-14 dalam Perjanjian Baru. Para pendukungnya mengatakan bahwa posisi Pentakostal sangat erat dengan penekanan Lukas dalam Kisah Para Rasul dan mencerminkan suatu hermeneutika yang lebih tajam.
Dr. Dale A. Robbins menulis sehubungan dengan keyakinan karismatik bahwa sejarah Gereja menolak pendapat bahwa karunia-karunia karismatik menghilang tak lama setelah masa para rasul. Dr. Robbins mengutip seorang bapa Gereja mula-mula, Ireneus (l.k. 130-202) yang menulis sbb. "... kami mendengar banyak saudara di gereja yang memiliki karunia-karunia bernubuat, dan yang berbahasa Roh, dan yang juga menyingkapkan berbagai rahasia manusia demi kebaikan mereka sendiri pengetahuan...". Dr. Robbins juga mengutip tulisan Ireneus berikut ini, "Ketika Allah menganggap perlu, dan ketika gereja banyak berdoa dan ber-puasa, mereka melakukan banyak perbuatan yang ajaib, bahkan menghidupkan kembali orang yang sudah meninggal." Menurut Dr. Robbins, Tertulianus (sekitar 155-230) melaporkan kejadian-kejadian serupa, seperti halnya pula dengan Origenes (sekitar 182-251), Eusebius (sekitar 275-339), Firmilianus (sekitar 232-269), dan Krisostomus (sekitar 347-407).
Keyakinan bahwa orang tidak diselamatkan apabila ia tidak berbahasa roh ditolak oleh kebanyakan aliran utama Pentakosta. Alasan cukup mendasar penolakan itu adalah, bahwa jemaat adalah tubuh yang memiliki peran dan karunia masing-masing.
Sebagian gereja Pentakosta berpegang pada teologi Keesaan yang menolak doktrin Tritunggal (Trinitas) yang tradisional dan menganggapnya tidak Alkitabiah. Denominasi Keesaan Pentakostal yang terbesar di Amerika Serikat adalah United Pentecostal Church -- UPCI (lihat Gereja Pantekosta Serikat Indonesia). Kaum Pentakostal Keesaan ini kadang-kadang juga dikenal dengan "Nama Yesus", "Kerasulan" atau yang oleh para pengecamnya disebut sebagai orang-orang Pentakosta "Yesus saja". Hal ini disebabkan oleh keyakinan mereka bahwa para Rasul yang mula-mula itu membaptiskan orang-orang Kristen baru di dalam nama Yesus. Mereka juga percaya bahwa Allah menyatakan diri-Nya dalam berbagai peran, dan bukan dalam tiga pribadi yang berbeda. Namun organisasi-organisasi pentakostal trinitarian yang utama, termasuk Pentecostal World Conference dan Fellowship of Pentecostal and Charismatic Churches of North America menentang teologi Keesaan dan menganggapnya sebagai ajaran sesat. Mereka tidak menerima kelompok ini sebagai anggota mereka. Kelompok Keesaan ini pun memperlakukan hal yang sama terhadap kelompok trinitarian.
3. Tatatertip Ibadah
Tata tertip ibadah yang selalu menjadi Hakekat adalah:
1. Dilarang Jemaat membuat hal-hal yang tidak pantas atau senonoh dalam gereja tertentu, jadi ini menjadi penatalayanan Gereja yang harus memberi dampak kepada setiap anak Tuhan yang terpangil melayani dalam Gereja itu.
2. Jemaat dilarang merokok, mabuk, berzinah, mencuri, melayani harus mempunyai hati hamba. Tidak bersungut-sungut dalam pelayanan.
3. Setia pelayan Tuhan dirauskan hidup kudus, kalau melayani harus puasa. Jangan mementingkan diri sendiri dalam pelayanan digereja maupun diluar gereja.
4. Kelebihan Dalam Gereja.
a. Membuat semua pelayan Tuhan semuanya berharga.
b. Semuanya sama tidak membeda-membedakan satu sama yang lain.
c. Kesetian dalam Gereja, tulus mengerjakan segala sesuatu yang diperintahkan oleh Pemimpin gereja.
d. Melayani Tuhan dengan rasa takut dan gentar. Penu dengan kekudusan atau menjaga kekudusan hidup.
e. Lebih menekankan kepada krakter hidup, berani berbuah lewat kehidupan masing-masing pribadi.
5. Kekurangan Dalam Gereja.
a. Menekankan kepada karunia-karunia. Dan merasa diri bisa atau hebat dalam pelayanan.
b. Setiap pendeta melihat kepada krakternya, dan cara hidupnya, pengalaman Hidup dalam Pelayanan dari pada Pendidikan.
c. Setiap pengerja harus diangkat menjadi pendeta setelah lulus melewati proses selama 5 tahun baru dikatakan layak menjadi seorang Gembala atau Pendeta.
d. Kesalahan tidak melihat status sebagai apa??? Tetapi dilihat dari kesetian.

BAB III
Kesimpulan.
Ada banyak tujuan dalam belajar sejarah gereja, disini hanya dikemukakan beberapa tujuan saja. Tujuan belajar sejarah gereja menolong mahasiswa.
Agar mahasiswa menghargai para utusan Injil (dari berbagai denominasi) yang mula-mula walaupun mereka melakukan kekeliruan di beberapa tempat di Indonesia, namun rela meneladani perkara-perkara yang baik dari kehidupan dan pelayanan mereka (para penginjil/zending/misionaris) pada masa lampau.
Agar mahasiswa mengerti dan berpegang pada prinsip: ‘Benih Injil Yesus Kristus yang ditabur/diberitakan dan yang mendapat tempat dihati yang tulus akan menghasilkan buah yang baik’.
Sejarah Gereja Indonesia adalah kisah tentang aktifitas misionaris (misi) dan respon orang-orang di Nusantara terhadap panggilan Yesus Kristus melalui pemberitaan Injil oleh para misionaris( Nestorian di Barus, Gereja Katolik dari Eropa, zending dari Belanda, dan Negara-negara lain), yang bermisi ke Nusantara pada abad ke 7 – 19.

Komentar